INFO | Online NEWS Kukar - Diskusi Menakar Kukar Bersama Eddy Subandi (Calon Bupati Kukar 2020 - 2024). Di kedai Kopi Etam Jl. Jelawat Kel. Timbau Kec. Tenggarong Kab. Kutai Kartanegara.
Diskusi dihadiri Eddy Subandi (Calon Bupati Kukar 2020 - 2024), Erwinsyah (Rektor Unikarta), Ishack Iskandar (Ketua Partai Hanura Kukar), Setya Budi (Ketua FKPPI), Max Donald Tindage (Anggota Hanura Kukar), Zainal Syamsuddin (Anggota Hanura Kukar), Arifani (Sekertaris Nasdem Kukar) Misran (Mantan Anggota KPU Kukar) Aji Dendi (Tokoh pemuda), Suardi (Kepsek SMK Geologi Pertambangan Tenggarong) serta beberapa mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara. Dan selaku mederator Bung Silaban.
Ucap Eddy Subandi, pengelolaan keuangan kukar yang masih menjadi momok di kukar sehingga timbul kesenjangan besar pasak dari pada tiang.
Rektor Unikarta bahwa, seharusnya miniatur demokrasi di Kukar sudah lebih maju, layaknya di Samarinda yang diramaikan oleh beberapa paslon yang siap maju. Salut dengan kesiapan tokoh senior untuk maju ke kancah pilbup memberikan contoh kepada para pemuda di Kukar untuk lebih berani dan maju melakukan perubahan utama membenahi persoalan keuangan di kukar. Ucap Erwinsyah
Sedangkan Arifani, dalam dinamika pilkada kukar akan bermunculan beberapa kandidat dan terlihat dari beberapa calon yang berani mendeklarasikan diri dengan mendaftarkan diri secara langsung ke PDIP kemarin. Dalam konsep menakar kukar, apa saja yang dikonsep dan akan dilakukan kedepanya apakah pendidikan, kesehatan dan lain apa saja? Sementara untuk mewujudkan hal itu butuh modal, elektabilitas, kapasitas dan popularitas.
Selain itu Aji Dendi, berbicara permasalahan lingkungan termasuk tambang illegal, pekebunan, penjarahan hutan dan pembagian perimbangan dana migas. Ada tidak pemimpin di Kukar yang berani melakukan pembenahan lingkungan dan mengatur tentang perizinan pertambangan serta berani dengan lantang menyuarakan tentang riskanya kerusakan lingkungan di Kukar akibat carut marutnya perizinan dan tata kelola lingkungan.
Toko Politik Setya Budi, sangat mengapresiasi keberanian Eddy Subandi selaku senior kita yang siap maju untuk pertarungan bupati, demikian jika mencontoh kepada seorang pemimpin negara tetangga kita Mahathir Mohammad.
Dilanjutkan Max Donald Tindage, sejak otonomi daerah dicanangkan yang jadi jualan calon pemimpin kebanyakan kesejahteraan masyarakat, sementara sejak 2011 ke 2018 berbicara kesenjangan masyarakat di kukar yang masih ada 8% penduduk di kukar masih ada dalam taraf kemiskinan, adakah cara seorang calon pemimpin di kukar untuk bagaimana caranya membenahi itu, utamanya di bidang fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Ucap Andika Selaku alumni lulusan ekonomi Unikarta Mewakili kaum millenial, Unikarta mencetak setiap tahunnya hampir seribu lulusan sarjana yang membutuhkan lapangan pekerjaan, tapi mengapa sejauh ini pemerintah kita tidak mampu memberikan solusi tentang lapangan pekerjaan di Kukar khususnya bagi sarjana lulusan Unikarta. Politik apapun itu jikalau tidak mampu memberikan solusi tentang lapangan pekerjaan bagi lulusan sarjana khususnya lokal, ada kemungkinan banyak pemilih dari kaum millenial yang akan golput.
Kembali Ishack Iskandar menyatakan pendidikan di Indonesia apakah mencetak pangsa pasar atau mencerdaskan bangsa, pada umumnya sarjana ekonomi banyak yang mendapat peluang hanya bekerja sebagai seorang supir atau sarjana hukum kerja di bidang pemasaran seharusnya mainset ini yang harus dirubah oleh para pemimpin kita, utamanya yang di daerah agar para lulusan sarjana diberikan solusi lapangan kerja yang sesuai dengan keilmuannya.
Ditambahkan Suardi (Kepala Sekolah SMK Geologi Pertambangan Kukar) Ada tiga kekuatan besar di kukar yakni migas, batu bara dan lahan yang luas tapi semuanya lepas dari daerah kita, utamanya migas kita, sebagian besar hasilnya hanya di kuasai oleh pusat, demikian halnya batu bara serta lahan yang luas, sementara melihat contoh negara luar jepang dan china yang sukses mensejahterahkan penduduknya di daerah menjadi lebih maju melalui pengelolaan bahan baku dan industri di beberapa daerahnya. Demikian pula SDM kita yang sangat lemah beberapa lulusan sarjana yang kerjanya tidak tepat sasaran. Seharusnya lulusan kejuruan bidang tekhnis lebih dibutuhkan bersesuaian dengan maraknya lapangan kerja dibidang industri.
Kata Zainal Syamsuddin, melihat bayaknya sumberdaya alam kita di kukar tetapi juga sarat oleh kepentingan pusat disini, sepertinya daerah kita hanya jadi sapi perahan kepentingan para elit dipusat. Pertanyaannya, ada tidak pemimpin kita di kukar yang mampu mengembalikan kesejahteraan masyarakat kita di Kukar layaknya pada saat Kukar di pimpin oleh (Alm) Syaukani dulu.
Ucap kembali Eddy Subandi semua pendapat adalah masukan dan saran yang cukup baik utamanya di bidang pendidikan kesehatan serta persoalan pengelolaan manajemen keuangan daerah melalui dana - dana perimbangan untuk mengurangi angka kemiskinan di kukar, tata kelola lingkungan. Sebenarnya jika melihat dari segi umur saya, keinginan untuk menjadi pemimpin di daerah, saya sudah selesai jika berbicara masalah syahwat kesenangan. Saya hanya berkomitmen dan bertujuan untuk disisa umur saya agar menjadi contoh pemimpin yang baik dalam melakukan pembenahan sistem di Kukar.(ir).3

Komentar
Posting Komentar
Apa kabar, dan terimakasih atas komentarnya